Sekilas tentang Putra Soekarno-
Mohammad Gempar Soekarno Putra ( Lahirnya Soekarno Baru )
Oleh: Bayou kori prayogi,SH ( Sekjen Barnas Kab Lamongan )
Belum banyak yang tahu, bahwa Bung Karno punya seorang putra hasil pernikahannya
dengan Ny Jetje Langelo (70 tahun), putri petani kopra Desa Lembean, Manado,
Sulawesi Utara.Sesuai amanat Bung Karno, anak yang diberi nama Mohammad
Fatahillah Gempar Soekarno Putra tersebut (kini berusia 44 tahun),
'disembunyikan' ibunya pada sebuah keluarga, kemudian diberi nama lain, yakni
Charles Christofel.
Hampir 40 tahun Ny Jetje memendam rahasia, siapa Gempar sebenarnya. Selama itu
pula Gempar menjalani hidup yang pahit dan getir. Mulai dari menjadi pembantu
rumah tangga, tidur di emperan toko, jadi preman pasar atau tukang panjat
kelapa, pernah ia lakoni. Bahkan saat ia masih kecil, berbagai siksaan fisik
pernah pula menderanya. Beberapa kali ia nyaris mati disiksa kakak dan ibu
angkatnya. Akibat beratnya penderitaan, pernah pula ia mencoba bunuh diri dengan
minum racun serangga. Untungya tidak mati. Meski dalam kemelaratan dan kesulitan
hidup, ia tetap sekolah hingga meraih gelar sarjana dari Fakultas Hukum
Universitas
Siapa sebenarnya Gempar dan bagaimana beratnya jalan hidup yang telah ia tempuh
hingga meraih apa yang ia peroleh sekarang? Inilah kisahnya.
Adalah Jetje Langelo, gadis cantik yang tampil sebagai pemenang dalam pemilihan
Puteri Kacantikan dan Siswa Teladan se-Sulawesi, tahun 1953 di
itulah Bung Karno,
Soegandi (suami Mien Soegandi - Mantan Menteri UPW pada masa Soeharto. Waktu itu
Soegandi berpangkat Mayor). Selain itu, hadir pula Heng Ngantung, Gubernur DKI
Bung karno kenal dengan Jetje Langelo, pelajar SGA Roma Katolik Manado yang
dalam acara tersebut tampil sebagai pemenang. Pada pesta ramah tamah malam
harinya kedua insan ini sempat berbincang dan berdansa bersama. Saat itulah
keterpautan antara keduanya mulai melekat. Waktu itu Bung Karno adalah suami
dari ibu Fatmawati, sekaligus Ibu
Jetje sendiri baru berusia 15 tahun ketika itu. Ia adalah puteri pasangan
keluarga petani kopra, Emile Langelo dan ibu Durine Dayoh. Jetje anak tertua
dari tiga orang bersaudara. Adik-adiknya, Boy Langelo dan Heng Langelo. Mereka
menetap di Desa Lembean, Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa, satu jam
perjalanan dari
utara
Sejak perkenalan tersebut,
masa itu, antara Jetje dan Bung Karno berjalan lancar. Tidak hanya itu, dalam
kesempatan lain, Bung Karno pun sering berkunjung ke
antara keduanya pun terpaut, hingga Jete merampungkan sekolahnya tahun itu juga.
Ketika niat Bung Karno ingin menikahi Jetje, konon, sebagaimana diceritakan
Gempar pada Bayu kori prayogi DPC Partai Barisan Nasional Kab Lamongan, orang tua Jetje, Emile Langelo, tidak memberi restu,
"Dengan pertimbangan, Opa tidak mau menyakiti hati ibu negara, yakni Ibu
Fatmawati."
Karena itulah, buru-buru Emile menjodohkan Jetje dengan Letnan Satu TNI Leo Nico
Christofel. Dari perkawinan tersebut, lahir dua orang anak, Linda Christofel dan
Lonce Christofel.
Akhir 1955, Jetje bercerai dengan Leo. Sementara komunikasi Jetje dengan Bung
Karno bertaut kembali, hingga akhirnya mereka menikah secara Islam di Manado
pada tahun 1957. Usai nikah, Jetje menolak ikut ke
tidak mau menyakiti hati Fatmawati, sebagai Ibu Negara.
Dalam kesempatan lain, ketika Jetje tengah mengandung anak dari perkawinannya
dengan Bung Karno, Jetje berencana akan melahirkan anak tersebut di Jakarta,
sebagaimana anjuran Bung Karno. Namun, disaat akan melahirkan, tiba-tiba pecah
pemeberontakan Permesta di daratan
kemudian lahir di
13 Januari 1958, di rumah kakeknya, Desa Lembean.
Berita kelahiran ini segera dikabarkan kepada Bung Karno di Jakarta lewat
telegram. Bersamaan dengan itu, meletus pula Gunung Lokon di Tomohon, gunung
tertinggi di Sulawesi Utara. Sementara, pemberontakan masih terus berkecamuk.
Sebagaimana diceritakan Gempar, belakangan ia tahu, lewat Laksamana John Lie,
Komandan Kapal Perang KRI Gajah Mada yang diperintahkan Bung Karno untuk
menumpas pemeberontakan di Sulawesi Utara. Begitu KRI Gajah Mada mendekati
pantai
meriam mendarat di
isteri dan anak Bung Karno di
masyarakat Manado di Jakarta.
"DISEMBUNYIKAN" DALAM PENDERITAAN
Sesuai amanah, konon lewat sebuah suratnya, Bung Karno memberi nama anaknya
Mohammad Fatahillah Gempar Soekarno Putra. "Gempar ini akan menggemparkan
Nusantara, bahkan dunia nantinya. Keberadaan anak ini harus dirahasiakan dulu,
sampai ia berusia 40 tahun atau sudah matang dalam dunia politik." Demikian
pesan yang disimpan begitu rapi oleh Ny Jetje, sebagaimana ia ceritakan kepada
Gempar.
Untuk itulah, Gempar kecil diberi nama oleh ibunya Charles Christofel. Nama
Christofel sendiri, diambil dari nama mantan suaminya, Leo Christofel, lelaki
yang sampai akhir hayatnya masih berhubungan baik dengan Ny Jetje. "Lebih dari
itu, pengambilan nama Christofel dipakai untuk menyamarkan, menutupi, agar tidak
ada yang tahu kalau Gempar adalah anak Bung Karno. Sebagaimana amanat Bung
Karno, bahwa anak ini harus dirahasiakan, hingga saatnya kelak ia akan tahu,
anak siapa ia sebenarnya, " tutur Gempar sebagaiama cerita ibunya.
Saat pemberontakan Permesta berakhir, dipenghujung tahun 1960, Bung karno
berkunjung ke
menggendong saya. Saya tidak dapat mengingatnya secara pasti, karena masih
berusia lebih kurang dua tahun. Cuma yang saya ingat masa itu, saya sudah punya
mainan mahal, yakni mobil-mobilan seperti gokart. Ibu bilang, mainan itu datang
dari
Sayang, kebahagiaan bersama ibu, tidak dinikmati Gempar selanjutnya. Usia 5
tahun, oleh ibunya ia dititipkan pada Ibu Mince, salah seorang kakak mantan
suaminya Christofel yang tinggal di daerah Kanaka, Kotamadya Manado. Sedang
ibunya kembali ke kampung, berjarak satu jam perjalanan dari
rasanya saya mulai kehilangan kasih sayang dari orangtua," tutur Gempar.
Ibu Mince, adalah istri seorang pedagang yang cukup terkenal di
bernama Johny Runtuwene. Mereka punya empat anak, Fence (laki-laki sulung),
Soan, Poan dan Dince. Beda usia mereka dengan Gempar cukup jauh, yang tekecil,
Dince, selisih 6 tahun lebih besar dari Gempar. Gempar memanggil Mak kepada ibu
angkatnya dan Bapak kepada bapak angkatnya. Sedang kepada saudara angkatnya,
Gampar memanggil Kakak.
"Sejak awal, saya memang sudah merasa asing dan memperoleh perlakuan tidak wajar
di rumah tersebut. Selain ditempatkan di sebuah kamar kumuh layaknya kandang,
karena memang bersebelahan dengan kandang ayam di belakang rumah dengan dinding
anyaman bambu dan lantai tanah, pakaian pun saya tidak punya. Kalau pun ada, itu
cuma pakaian bekas dari saudara angkat saya Tidur di dipan beralaskan tikar.
Di usia
Mulai dari yang ringan, misalnya menyapu rumah, menyapu halaman, buang sampah
dan mencuci pakaian saya sendiri. Namun, saat saya mulai masuk SD kelas satu,
saya sudah harus menimba air dari sumur, mengisi dua drum besar ,untuk mandi
mereka dan berbagai keperluan lainnya.
Jarak dari sumur ke rumah, sekitar seratus meter. Saya harus menenteng dua ember
sekaligus, sehingga membuat saya berjalan terseok-seok. Sementara, saya sendiri
tidak boleh mandi di drum itu," kata Gempar, menceritakan awal mula derita hidup
yang ia jalani.
Tidak hanya itu, ia harus bangun lebih awal dari orang-orang di rumah. Selain
menimba air di sumur, kian lama tugasnya kian meningkat, mulai dari
mempersiapkan sarapan pagi di dapur, mencuci pakaian seisi rumah dan sebagainya.
Sebelum berangkat sekolah, ia harus menunggui saudara - saudara angkatnya minum
susu dan makan roti. "Dengan harapan, sisa dari makanan mereka itu bisa buat
saya. Lumayan, buat menganjal perut, karena saya memang tidak pernah menikmati
uang jajan ke sekolah," tutur Gempar.
Di sekolah, jika lapar, katanya, dia permisi keluar kelas untuk minum air kran
yang ada di WC sekolah. "Jika teman-teman jajan, ya, saya menonton saja. Di
situlah, kadang-kadang tanpa terasa, air mata saya jatuh, menahan pedih di
hati," kata Gempar.
Setelah para saudara angkatnya berangkat sekolah, ada yang menggunakan sepeda,
bendi (delman) langgananan mereka, menuju sekolahnya masing-masing, barulah
Gempar berangkat jalan kaki menuju sekolahnya yang berjarak sekitar 2 kilometer
dari rumah,
"Saya cuma punya satu pasang sepatu pemberian orang. Seragam sekolah pun saya
cuma punya satu. Karena itu sepatu tersebut sering saya tenteng di perjalanan,
supaya awet. Setelah dekat sekolah baru saya pakai. Seragam sekolahpun langsung
saya cuci bila sampai di rumah, langsung dijemur untuk dipakai esok harinya.
Jika hujan, terpaksa saya pakai terus berulang-ulang. Sehingga seragam tersebut
sampai bulukan dan robek, ya saya jahit sendiri pakai jarum tangan," cerita
Gempar.
Lebih parah lagi, kata Gempar, tidak jarang sepulang sekolah, ia tidak kebagian
nasi, apalagi lauk pauknya. "Yang saya jumpai, hampir selalu periuk nasi yang
masih ada keraknya. Zaman itu, orang kalau masak
keraknya yang melekat. Kerak itu saya siram air panas, sehingga mengelotok.
Itulah yang saya makan bagi dua dengan anjing piaraan di rumah tersebut. Makan
malam pun demikian, hampir selalu saya temui kerak nasi, selama bertahun-tahun.
Sedang nasinya, hanya untuk orang seisi rumah bersama anak-anak mereka.
Kadang-kadang, kalau kebetulan sedang ada Pak Johny Runtuwene (suami ibu
Mince-Red) dan puteri bungsunya Dince di rumah, saya bisa makan nasi. Kedua
orang ini cukup baik, memperlakukan saya agak manusiawi dibanding yang lain,"
kata Gempar. Meski demikian, diakui Gempar, untuk mata pelajaran Berhitung dan
tersebut, dia memperoleh nilai 9.
DISIKSA KAKAK DAN IBU ANGKAT
Sebagai anak laki-laki, sangat lumrah, bila kadang-kadang Gempar itu nakal,
namun masih dalam batas wajar. Sebagaimana ia ceritakan, ketika duduk di kelas 5
SD waktu berusia 11 tahun, sepulang sekolah, karena lapar, ia mencuri sebuah
pisang ambon yang ada di dapur.
"Mengetahui pisangnya hilang satu, ibu Mience langsung marah-marah. Ketika
ditanya, saya mengaku telah mengambil sebiji pisang. Saya langsung dipukul pakai
kayu. Saya diam saja, sambil berlalu ke belakang hendak mencuci baju seragam
untuk saya pakai esok hari. Di
anak-anaknya yang harus saya cuci.
Ketika saya sedang mencuci, tiba-tiba Ibu Mince datang dari belakang sambil
marah-marah, melumeri wajah saya dengan segenggam sambal cabe rawit. Saya
berteriak, menjerit kesakitan dan membenamkan muka saya ke dalam drum air tempat
mandi. Perih di mata tak hilang juga. Berjam-jam lamanya saya menangis, sehingga
mengundang iba para tetangga. Namun, mereka tak berdaya untuk menolong, mereka
tidak mau mencampuri rumah tangga orang lain," kata Gempar.
Karena menahan sakit, Gempar lupa mengganti air cabe tempat ia membenamkan muka
ke drum mandi. Ketika Fence, putra sulung di rumah itu mandi, mata Fence pun
perih. Badan beserta bagian tubuh lainnya kepanasan.
"Saya langsung ditendang Fence, dipukuli sejadi-jadinya. Belum puas, ia ambil
tali, ia ikat kaki dan tangan saya, langsung membenamkannya ke sumur. Untung ada
sebongkah batu yang menjulur di dinding, sehingga tangan saya bisa nyangkut di
tolong, sehingga mengundang perhatian para tetangga. Orang-orang pun berdatangan
menyelamatkan saya dan memarahi Fence yang tidak manusiawi. Pertengkaran antar
mereka pun terjadi dan salah seorang bapak sempat memukul Fence," cerita Gempar.
‘’MENOLONG TEMAN’’
SD Katolik Don Bosco Manado tempat Gempar sekolah, adalah tempat bersekolahnya
anak orang-orang terkemuka di kota tersebut. Mulai dari pedagang, hingga anak
Bupati dan Walikota, ada di
gempar.
Suatu kali, rekan sekelasnya, Pedy Lumentut, anak Bupati Minahasa masa itu,
memukul Tjong Kok Hwa (sekarang dosen di UCLA Amerika Serikat), putera pedagang
arloji yang cukup terkenal di
spontan Gempar memukul Pedy. Anak Bupati itu pun tersungkur. Sejak itulah Gempar
disegani di sekolah itu. "Dan sejak itu pula saya mulai merasakan enaknya kue
jajanan di sekolah, pemberian Tjong Kok Hwa yang merasa iba pula kepada saya
yang tidak pernah jajan."
Tidak hanya itu, anak Walikota Manado, Kemal Rauf Moo, pun pernah ia pukul,
karena sombong dan jahat kepada rekan sekelasnya. Sejak itu, diakui Gempar, ia
mulai mendapat simpati teman-temannya, karena suka menolong rekan yang lemah.
"Lumayan, saya sering dijajani teman dan hidup dari belas kasihan mereka. Saya
yang tadinya cuma punya satu buku tulis untuk seluruh pelajaran, sering
dibelikan teman. Begitu pula sepatu dan seragam, sering diberi oleh teman-teman,
bekas mereka yang tidak terpakai lagi."
‘’JUALAN ES’’
Saat di kelas 5 SD itu, Gempar ingin punya uang sendiri. Maka usai sekolah,
kadang-kadang masih pakai seragam, ia langsung ke rumah Haji Basalamah, salah
seorang tetangga, sekitar satu kilometer dari rumahnya. Di rumah pedagang
keturunan Arab itulah ia bisa makan enak, pakai ikan, ayam, daging dan
sebagainya, sesuatu yang tidak pernah ia dapat di rumah ibu angkatnya.
Selanjutnya, Gempar mencuci piring, membantu pekerjaan di rumah itu, bahkan
mencuci pakaian. Imbalannya, Ibu Basalamah memberi sejumlah uang kepada Gempar.
Selain itu, Gempar pun diberi kesempatan menjajakan Es milik keluarga itu
berkeliling kampung. "Hasilnya, lumayan. Saya bisa beli buku, pensil, penggaris
dan berbagai keperluan sekolah lainnya," kata Gempar.
Cuma, karena pulang terlalu sore, dimana drum mandi Ibu Mince sekeluarga belum
diisi, ditambah lagi pekerjaan rutin lain di rumah ibu angkatnya itu tidak ada
yang mengerjakan, lagi-lagi Gempar mendapat siksaan. Ia dipukul pakai rotan,
kayu dan benda apa saja. "Lama-lama saya jadi kebal. Bayangkan, ketika saya
sedang mengaso saat membelah kayu bakar di bawah pohon samping rumah, saya
tertidur dihembus angin. Tiba-tiba saya dipukul oleh Ibu Mince pakai kayu
tersebut. Punggung saya merah, kulit terbelah bahkan ada beberapa serpihan
runcing kayu tersebut yang menancap di daging. Semua saya tahankan. Saya sudah
tidak kuat menangis. Air mata saya rasanya sudah habis," katanya, pilu.
Bagaimana perjalanan Gempar selanjutnya setelah gagal bunuh diri? Jadi kondektur
Bemo rute Manado -Bitung, aktivis SMA, mundur dari Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi dan meretas jalan hidup di Jakarta,
Saat remaja Gempar tumbuh menjadi pemuda kekar, gagah dan cerdas. Iapun mulai dilirik para gadis. Namun ia lebih suka bergaul dengan preman pasar atau berkutat di laboratorium sekolah.”Saya minder bertemu lawan jenis,” ujar Gempar yang percobaannya menggemparkan sekolahnya dan urung menjadi mahasiswa kedokteran ini.
Sejak Gempar berusia 10 tahun, ibunya , Ny Jetje mulai sering berkunjung ke rumah ibu Mince, tempat Gempar dititipkan. Minimal tiga bulan sekali, sekedar menengok anaknya. Pada kunjungannya Jetje sesekali memberi uang untuk bayar SPP dan uang jajan seadanya.Namun ia tidak pernah bermalam. Pagi datang, sorenya kembali lagi ke kampung.
“Dalam pertemuan itu, sebenarnya saya ingin protes, kenapa saya dibiarkan menderita, hidup dengan ibu angkat yang memperlakukan saya seperti babu. Hampir tiap hari menerima siksaan lahir batin. Namun, setiap kali saya akan bicara, mulut saya sepertinya terkunci. Saya tidak akan tega menyaksikan ibu bersedih bila mendengar pengaduan saya. Apalagi setiap kali bertemu wajah dan tatapan ibu selalu sendu. Seolah menyimpan sesuatu yang tersembunyi jauh di lubuk hatinya. Akibatnya, saya cuma bisa menangis. Namun tak berani bersuara. Airmata mengalir dalam tangisan yang tertahan. Ibu pun sering tak kuasa menahan airmatanya. Sering kami berdua saling bertangisan dalam setiap kali pertemuan itu. Saat akan berpisah, ibu pasti memeluk saya dan mengusap rambut saya sambil berkata, kamu harus tabah, jalan hidup akan jadi guru yang sangat berharga bagimu kelak. Untuk itu, jika kamu ingin jadi orang, kamu harus tekun belajar dan jangan nakal,” tutur Gempar mengenang masa kecilnya.
Suatu kali, ketika Ny Jetje lama tak berkunjung, dan Gempar tak punya uang sedikitpun, ia kembali ke rumah Ibu Basalamah untuk berjualan es keliling kampung. Karena dagangannya belum laku, Gempar menjajakan es agak jauh, hingga ke terminal bus Empat Lima Manado, 3 kilometer dari tempat tinggalnya. Saat itu, ia melihat ibunya sedang menunggu bus yang akan bertolak ke kampungnya. Menyaksikan sang anak tengah menjajakan es, Ny. Jetje langsung mendekap Gempar. Tangisnya meledak.
“Airmata saya pun bercucuran.Tak mampu saya berkata-kata. Sayang pertemuan itu tidak lama, karena sudah terlalu sore, bus terakhir menuju kampung segera berangkat. Sambil berpesan agar saya hati-hati, jangan sampai pecah termos es orang, harganya mahal, Ibu menyelipkan sejumlah uang buat saya. Sambil menyeka airmata saya lambaikan tangan pada ibu, sementara tangan kiri menenteng termos es. Saya pun berlalu, kembali ke rumah Ibu Basalamah. Karena punya uang, es dagangan saya makan.Walau berjualan es, saya jarang menikmati es sampai puas. Sebab, kalau saya makan lebih dari satu sesuai jatah, keuntungan buat saya bisa dipotong,” kata Gempar.
SIKSAAN BELUM BERAKHIR
Suatu sore, seusai berjualan es, Gempar diajak teman-teman sebayanya berenang di sungai Karame, tidak berapa jauh dari rumah ibu Mince. Saking asyik bermain, ia lupa jika hari telah senja Apalagi waktu itu terang bulan dan esoknya hari libur, tidak ada PR sekolah yang harus dia kerjakan.
“Begitu masuk pekarangan rumah, saya langsung disambut dengan pukulan rotan oleh Fence. Dia marah-marah, karena ketika ia dan adik-adiknya akan mandi, ternyata drum bak mandi kosong, belum sempat saya isi. Tangan saya langsung dia ikat, saya dipukuli sambil diseret ke dalam rumah. Setibanya di ruang tamu, saya pikir dia sudah berhenti memukuli saya. Ternyata lebih sadis lagi. Dia ambil kabel listrik, langsung disetrumkan ke paha saya. Saat itulah saya benar-benar pasrah kepada Tuhan. Kalau memang saya harus mati, saya sudah siap. Disaat saya menjerit menahan setruman itu, tiba-tiba lampu langsung mati. Saya pun melepaskan ikatan dan berlari ke luar rumah. Fence masih mengejar saya.
Setelah peristiwa itu Fence bukannya jera,malah sikap kejamnya bertambah. Berbagai kesalahan kecil harus dibayar Gempar dengan siksaan. Ancaman golok dan disiram air panaspun sudah tidak terhitung banyaknya. Terakhir, dia diikat di pohon nangka dan dirubungi semut.
“Kali ini saya benar-benar berteriak dan mengundang perhatian tetangga. Saat itulah hampir pecah keributan anatar tetangga yang akan melepas saya dari Fence. Sejak itu pula keluarga ini dikucilkan warga sekitar.”
Suatu malam, Gempar mengakui, bahwa hidupnya kian hari kian gelap. Sehingga lahir istilah dia, “Habis gelap terbitlah gelap, dan gelap terus.” Pameo itu dia abadikan dalam buku tulisnya.
Malam itulah, kata Gempar tiba-tiba muncul keinginannya untuk mati. “Saya ingin bunuh diri,” katanya. Dia ambil racun serangga semprotan nyamuk yang tersimpan di dapur.
“Saya lihat masih ada sekitar satu gelas. Langsung saya minum. Saya langsung ke kamar. Tiba-tiba saya merasa pening, perut melilit dan muntah-muntah. Dalam kesakitan itu, tak
seorang pun yang menolong saya. Anehnya, dalam keadaan sekarat itu, antara sadar dan tidak, saya pikir saya sudah akan mati dan sempat bergumam, selamat tinggal dunia. Ternyata, saat ayam berkokok pagi hari di kandang yang persis di sebelah kamar saya, saya terbangun dalam keadaan segar. Ternyata tidak jadi mati. Rutinitas penderitaan pun terus saya jalani lagi,” kata Gempar.
HIDUP BEBAS
Karena setiap hari bekerja berat, mengangkat air, membelah kayu, mencuci dan sebagainya, menjadikan fisik Gempar tumbuh kekar dan berotot. Maka ketika dia pulang kampung untuk pertamakalinya setelah tamat SD, tahun 1972, kakeknya, Emile Langelo, sempat tidak percaya, kalau Gempar adalah cucunya. Saat Gempar minta biaya untuk masuk SMP, sang kakek langsung menggiringnya ke kebun kelapa, sekitar satu kilometer dari rumahnya.
“Saya disuruh manjat kelapa dengan upah dua kali lipat dari tukang panjat di
Dia kembali ke
“Fence cabut golok, saya pun pegang balok. Saya tantang dia berkelahi. Untung segera dilerai tetangga.” Sejak itulah Gempar mulai menikmati kebebasan hidup di rumah itu. Akibatnya ia semakin jadi orang asing di rumah Ibu Mince.
“Saya harus cari makan sendiri, cari biaya sekolah sendiri dan sebagainya dengan menjadi kondektur bemo yang melayani rute Manado- Bitung. Pulang ke rumah Ibu Mince cuma untuk istirahat tidur,” ungkap Gempar. Kala itulah dia mulai kenal kehidupan terminal dan bergaul dengan preman pasar “Empat Lima”
“Jika sudah malam, terutama malam Minggu atau malam hari libur saya tidur di terminal. Kalau tidak di emperan toko, membaur dengan preman yang badannya penuh tato. Saat itulah saya tahu, terkadang preman lebih manusiawi dari orang-orang yang berpendidikan. Mereka beli nasi bungkus, saya pun dibelikan. Ketika mereka mau melakukan kejahatan, mereka bilang, kamu jangan ikut rusak seperti kami yang tidak bersekolah. Ayo kembali ke sekolahmu,” kenang Gempar.
Dari pergaulan terminal itu, Gempar kenal Aseng, seorang Tionghoa yang semula dikenalnya sebagai pedagang cengkeh. Aseng, minta jasa Gempar yang bertubuh kekar itu untuk menemani dia ke kampung-kampung penghasil cengkeh dengan menggunakan sepeda motor.
“Sampai di desa, ia bodoh-bodohi petani cengkeh. Ia menukar motornya dengan sekian puluh batang pohon cengkeh yang tengah berputik. Setelah cengkeh petani tadi siap panen Aseng pun datang memetik. Semula, saya pikir, hebat juga bisnis Aseng. Hanya bermodalkan sebuah sepeda motor, bisa menghasilkan berpuluh-puluh sepeda motor nantinya setelah cengkeh dipanen.Cuma dalam tempo beberapa bulan. Namun, lama-lama, saya menyadari, kalau bisinis ini kotor, sama dengan lintah darat. Karena bertentangan dengan prinsip hidup dan hati nurani, Aseng pun saya tinggalkan,” papar Gempar.
Padahal, diakui Gempar, selama setahun menjadi “body guard”-nya Aseng, ia hidup lebih dari cukup. Waktu itu Gempar mampu membeli perlengkapan sekolah, seperti seragam, buku-buku, sepeda balap, sepatu bagus, arloji mahal dan berbagai perlengkapan berkelas lainnya. Melihat Gempar sudah menjadi orang “kaya”, Fence yang begitu membencinya pernah beberapakali minta uang pada Gempar.
Meski dia sering mengawal Aseng ke berbagai tempat, Gempar tidak pernah meninggalkan bangku sekolah. Di perjalanan, bahkan di kebun pun dalam setiap kesempatan, dia pasti belajar. Karena itulah, ketika lulus SMP dia tampil sebagai juara kelas dan berhasil masuk ke SMA Negeri I Manado, sekolah menengah teladan tingkat Sulawesi Utara masa itu.
BAKAT PEMIMPIN
Begitu duduk di bangku SMA Gempar langsung dikenal para siswa di sekolahnya , mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Selain gagah dan cerdas, diapun pintar bergaul.Tak heran bila baru 6 bulan duduk di kelas satu , dia sudah dipercaya sebagai ketua OSIS.
Selain itu Gempar menyandang pula jabatan:ketua kelas, ketua Pramuka, ketua kelompok belajar IPA, ketua kesenian sekolah dan ketua tim olahraga. Maka tak heran, SMA Negeri I Manado yang sudah cukup terkenal itupun, dengan hadirnya Gempar di
Satu hal yang sempat melambungkan nama Gempar di SMA itu, adalah ketika dia berhasil membuat karya ilmiah yang telah diuji keakuratannya oleh para pakar Unsrat masa itu.Saat itu dia berhasil menciptakan sumber listrik tenaga matahari non solar cell dan sumber tenaga listrik dari gelombang laut. Keberhasilan ini, berkat kerja keras Gempar hampir dua tahun berkutat di laboratorium sekolah dan membaca berbagai buku sebagai literatur, asing maupun lokal.
“Kalau yang berbahasa Belanda, Jerman atau Inggris, saya terjemahkan secara tradisional, dengan melihat kamus, kemudian merangkai kata-katanya. Maklum, waktu itu saya belum mahir menggunakan kedua bahasa asing ini ,” ungkap Gempar.
Kecuali bila dia sedang pulang kampung, dia bisa minta bantuan ibunya yang pernah mengecap pendidikan Belanda, sehingga mahir berbahasa Belanda dan Inggris. Atas temuan ini, dia memperoleh penghargaan dari pemerintah daerah sebagai pemuda pelopor yang kreatif.
Tidak puas di situ saat duduk di kelas tiga, dia nyaris meledakkan laboratorium sekolah dalam sebuah praktek. Saat itu Gempar mencampur beberapa zat kimia yang bisa menimbulkan ledakan. Untungnya, benda tadi segera dilemparkannya ke halaman sekolah dan meledak di
Pada suatu kesempatan Gempar sengaja membuat percobaan sejenis di tengah lapangan, disaksikan para guru dan rekan sekolahnya. Percobaan Gempar ini menimbulkan ledakan yang cukup dahsyat. Melambungkan sebuah drum kosong yang dipakai sebagai wadah percobaan. Suara ledakannya pun terdengar hampir 3 kilometer, sehingga memecahkan kaca-kaca rumah dan sekolah di sekitar tempat itu. Sejak itulah pratikum Gempar distop oleh gurunya.Sang guru khawatir percobaan yang dilakukan muridnya yang kreatif ini nantinya bisa disalahgunakan orang.
SELAMAT TINGGAL MANADO
Sejak duduk di SMA, hampir tiap minggu Gempar pulang ke kampung, untuk meminta bekal sekolah pada ibunya. Di hari Minggu ia seharian berada di kebun kelapa milik sang kakek. Memetik kelapa dan mengupas isinya, dijemur untuk dijadikan kopra.
“Terus terang, waktu SMA tangan saya ini kapalan dan kasar, karena saban minggu memanjat dan mengupas kelapa. Karena kasar itu, kadang-kadang saya malu juga bila bersalaman dengan orang, terutama teman wanita,” ujarnya.
Meski demikian, sebagaimana diakui Sammy Kullit (43 tahun), teman akrab Gempar sejak SD hingga SMA di Manado ,sebenarnya Gempar sudah menjadi perhatian banyak teman wanita saat remaja. Tidak saja di SMA I juga dari SMA lain. “Sebab, selain cerdas, Gempar juga pandai bergaul .Ditunjang pula penampilan fisiknya yang atletis,” kata Sammy. Sayang, Gempar tak pernah membalas lirikan teman wanitanya.
“Terus terang, saya minder. Saya ini orang melarat. Mana ada orang yang mau pada saya. Waktu itu, saya lihat, walau ada cewek yang mendekat, tapi, akhirnya dia akan pergi dengan teman yang ke sekolah naik mobil atau sepeda motor. Maklum, SMA Negeri Satu itu, adalah tempat berkumpulnya anak orang kaya dan anak pejabat daerah. Jadi, mana mungkin kita bersaing dengan mereka. Sementara, saya ke sekolah jalan kaki atau naik Bemo. Jeane, Isteri yang kini telah melahirkan seorang anak remaja untuk saya, adalah adik kelas yang pernah saya taksir berat. Namun, saya minder untuk mendekati dia. Kami malah bertemu di
“Saya bingung, tidak tahu harus menempuh jalan mana untuk kelanjutan hidup. Mau kuliah, belum tahu, siapa yang akan membiayai. Ibu tidak punya penghasilan. Kakek pun mulai sakit-sakitan dan mengharapkan saya untuk menetap di kampung mengelola pertanian kelapa . Saya bertekad, bagaimana pun saya harus maju, saya harus kuliah,” katanya. Waktu itu, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi adalah salah satu Fakultas paling favorit di universitas paling terkenal di Sulawesi Utara itu.
“Semua teman kelompok belajar saya mendaftar ke
Membawa kekecewaan yang dalam Gempar kembali ke kampung. Ia lantas bekerja keras di kebun kelapa kakeknya untuk mengumpulkan uang. Ia bertekad akan merantau ke
Selama sebulan berkutat di kebun terkumpul uang Rp. 25 ribu. Hanya berbekal dua setel pakaian yang dibungkus dalam sebuah kantong plastik, tidak lupa menggulung ijazah dalam sebuah buluh (bambu) kecil, berpamitanlah Gempar pada ibu dan kakeknya. Dengan berbekal bungkusan nasi dan lauk pauk, Gempar menuju pelabuhan Bitung.
Pelabuhan laut terbesar di Sulawesi Utara ini merupakan pintu gerbang utama bagi orang-orang yang akan bertolak ke pulau Jawa lewat laut.
Ternyata uang yang dikumpulkan Gempar tidak cukup untuk membayar ongkos kapal di dek sekalipun. Namun tekadnya untuk merantau sudah bulat.Ia mengambil jalan pintas,menjadi penumpang gelap di kapal.Agar tak ketahuan awak kapal, Gempar menyelinap ke cerobong asap yang panas dan nyaris merenggut nyawanya.
Bagaimana perjuangan Gempar selanjutnya di Pulau Jawa hingga akhirnya benar- benar membuat gempar kalangan politik
SEKILAS BIOGRAFI
DR.GEMPAR SOEKARNO PUTRA,SH
![]()
DEWAN PIMPINAN CABANG
PARTAI BARISAN NASIONAL
KABUPATEN LAMONGAN
“LAHIRNYA SOEKARNO BARU”
‘’SATRIO PININGGIT’’
DEWAN PIMPINAN CABANG
PARTAI BARISAN NASIONAL
KABUPATEN LAMONGAN
SEKRETARIAT : JL.RAYA TANJUNG NO 12 LAMONGAN TLP,0322-9129386.FAX0322-9129386.
Email-barnas_lamongan@yahoo.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar